Hai, para Bunda hebat! Pasti sudah dengar ya tentang lagu yang lagi ramai diperbincangkan? Yup, lagu berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, mendadak viral karena liriknya yang dianggap melecehkan perempuan. Banyak warganet yang geram, termasuk figur publik seperti Atalia Praratya.
Tanggapan Pedas Atalia Praratya
Melalui akun Instagram pribadinya, @ataliapr, Atalia mengunggah cuplikan video musik lagu tersebut lengkap dengan lirik dan terjemahannya. Ia mengaku tak bisa menemukan sedikit pun nilai penghormatan terhadap perempuan dalam lagu itu. "Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" tulisnya dengan nada prihatin.
Menurut Atalia, budaya Sunda sejak dulu mengajarkan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh. Nilai-nilai inilah yang seharusnya tercermin dalam setiap karya, terutama yang mengatasnamakan budaya Sunda. "Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tegasnya.
Kritik terhadap Patriarki dari Pejabat Publik
Atalia juga menyoroti ironi di tengah perjuangan kesetaraan gender. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin seorang kepala daerah justru melahirkan narasi patriarkal yang merendahkan perempuan. Unggahannya pun langsung dibanjiri dukungan dari netizen. Banyak yang menyayangkan mengapa seorang pemimpin bisa membuat karya yang tidak menghargai perempuan, padahal ia lahir dari rahim seorang ibu.
Lirik yang Menuai Kontroversi
Lagu ini memang memuat lirik yang dianggap sensitif, seperti menyebut anak SMP yang sudah keguguran tujuh kali, serta sindiran tentang pembalut dan telat menstruasi. Berikut beberapa penggal lirik beserta artinya yang menjadi sorotan:
- "Nuhun Gusti Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki" (Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
- "Cacak mun jadi awewe, ES-Em-Pe kelas tilu, Tos Karuron tujuh kali" (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga, sudah keguguran tujuh kali)
- "Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek, Alatan telat bulan" (Tidak usah keluyuran mencari apotek karena telat bulan)
Lirik seperti ini dinilai tidak hanya tidak menghormati perempuan, tapi juga menormalisasi penderitaan yang dialami perempuan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Pesan untuk Para Ibu
Sebagai sesama perempuan dan ibu, kita tentu merasa prihatin dengan kontroversi ini. Namun, ini juga jadi pengingat bahwa kita harus terus kritis terhadap konten yang kita konsumsi, termasuk yang berasal dari tokoh publik. Penting bagi kita untuk mengajarkan nilai-nilai saling menghargai kepada anak-anak, terutama dalam melihat perbedaan gender. Yuk, bersama-sama kita dukung karya-karya yang mengangkat martabat perempuan, bukan sebaliknya!